Ikuti Kami :
Quiet Firing: Ketika Karyawan “Diusir” Secara Halus

Quiet Firing – Mungkin kamu pernah mendengar istilah quiet quitting yang akhir-akhir ini sering diomongin, yaitu fenomena karyawan yang “resign secara diam-diam”. Nah, kali ini kita akan membahas tentang quiet firing yang juga populer.

Fenomena ini sering banget dibahas di media sosial. Bedanya kalau quiet quitting dilakukan oleh si karyawan bertujuan agar si karyawan bisa mendapatkan work-life balance, quiet firing justru dilakukan oleh perusahaan, waduh!

Kali ini, kita akan membahas tentang fenomena quiet firing. Yuk, kita bahas bersama-sama!

Apa Itu Quiet Firing?

Menurut Team Building, quiet firing adalah fenomena perusahaan yang diam-diam “memecat” karyawannya dengan membuat lingkungan kerja menjadi nggak nyaman atau nggak cocok untuk si karyawan agar si karyawan mau resign dengan sendirinya.

Bisa dibilang, fenomena ini dianggap cara perusahaan meminta karyawan resign secara non-confrontational atau tanpa konfrontasi. 

Gallup mengungkapkan quiet firing merupakan bukti manajer dan perusahaan gagal memberikan dukungan, pelatihan, dan membimbing karyawan untuk mengembangkan karirnya.

Loh, kok dianggap gagal?

Alasannya adalah ketimbang mendukung si karyawan untuk mengembangkan karirnya, perusahaan atau atasan justru membuat si karyawan nggak nyaman dengan pekerjaannya.

Fenomena ini dianggap sebagai kultur toksik di dalam dunia kerja karena perusahaan tidak bisa membicarakan performa si karyawan dan juga tanda adanya kegagalan dalam manajemen.

Fenomena ini “menguntungkan” perusahaan karena tidak perlu mengeluarkan uang pesangon karena pada akhirnya, si karyawan yang akhirnya resign secara sukarela. 

Kok Bisa Terjadi Quiet Firing?

Seperti yang dibahas sebelumnya, fenomena ini menandakan adanya permasalahan dalam manajemen. Hal tersebut didukung oleh pendapat dari Paul Lewis, Chief Customer Officer dari Adzuna.

Kalau mau tahu, kira-kira begini penyebabnya:

  • Perusahaan atau atasan meragukan kemampuan karyawan

Biasanya, penyebab perusahaan atau atasan melakukan quiet firing adalah mereka merasa performa si karyawan tidak sesuai dengan keinginan. Dengan kata lain, kemampuan si karyawan dianggap lebih rendah dibandingkan dengan karyawan lain.

Padahal, akan lebih baik jika manajemen memberikan dukungan serta membimbing, ketimbang membiarkan si karyawan. Alasannya, bisa jadi masalahnya bukan di rendahnya performa si karyawan, melainkan adanya miss terhadap manajemen perusahaan.

Baca juga: Bell Curve: Katanya Sih Sistem Penilaian Paling Nggak Adil!

  • Menghindari konflik

Alasan kedua adalah ingin menghindari konflik, perusahaan menganggap jika berdiskusi dengan karyawan yang bersangkutan bisa menghasilkan pertegangan karena akan berakhir dengan pemecatan.

Dengan sengaja melakukan quiet firing, perusahaan atau manajer bakal keliatan seperti cari aman.

  • Menghemat biaya

Seperti yang dibahas sebelumnya, quiet firing “menguntungkan” perusahaan karena mereka tidak perlu membayar uang pesangon ke karyawan saat pemecatan atau PHK.

Selain itu, bisa jadi perusahaan “nggak mampu” untuk membayar gaji karyawan yang cukup tinggi sehingga mereka melakukan quiet firing terhadap karyawan tersebut dan menggantinya dengan karyawan lain yang gajinya lebih rendah.

  • Adanya konflik personal antara atasan dan karyawan

Nggak bisa dipungkiri juga, atasan dan karyawan sering mengalami konflik personal, bisa karena ada ketidakcocokan terhadap gaya kerja atau bahkan si atasan malah nggak suka dengan kepribadian si karyawan.

Tetapi, bisa juga perusahaan melakukan quiet firing terhadap seorang karyawan karena karyawan itu sendiri yang emang problematik terhadap rekan kerjanya sehingga lingkungan kerja nggak nyaman lagi.

  • Terjadi kesalahan dalam manajemen

Alasan terakhir terjadinya quiet firing adalah adanya miss terhadap manajemen perusahaan. 

Ketimbang memberikan masukan dan dukungan terhadap karyawan, mereka justru berdiam diri membiarkan si karyawan kewalahan sehingga membuat karyawan tersebut berpikir untuk resign.

Tanda-Tanda Quiet Firing Apa Aja sih?

Untuk antisipasi, berikut adalah tanda-tanda kamu “disuruh” resign oleh atasan atau perusahaan kamu:

  • Menunda promosi jabatan si karyawan

Ini adalah ciri-ciri quiet firing yang paling umum ditemui, khususnya terhadap karyawan yang seharusnya berhak mendapatkan promosi jabatan. 

Dalam kasus ini, karyawan yang bakal di-quiet firing nggak dipromosikan atau bahkan nggak diberi kesempatan untuk berkembang tanpa diberi alasan yang jelas.

Bahkan meskipun si karyawan dinaikkan jabatannya, dia justru ditempatkan pada posisi yang bikin dia susah berkembang.

  • Mengabaikan keberadaan si karyawan

Mengabaikan si karyawan udah termasuk dalam diskriminasi di dunia kerja, yang tentu aja red flag banget di mata karyawan gen Z dan milenial. Selain berhubungan dengan SARA, usia, gender, dan kondisi fisik, diskriminasi ini juga berhubungan dengan politik perusahaan yang bikin karyawan nggak nyaman untuk terus bekerja di sana.

Misalnya, ada seorang karyawan yang nggak diajak diskusi dalam suatu divisi perusahaan, meskipun seharusnya karyawan tersebut berkepentingan. Bentuk lain diskriminasi terhadap karyawan adalah si manajer mengabaikan kontribusi yang diberikan oleh si karyawan.

  • Memberikan beban kerja yang tak masuk akal dan di luar jobdesc si karyawan

Emang sih adanya perubahan terhadap jobdesc wajar terjadi karena menyesuaikan dengan kondisi perusahaan. 

Akan tetapi, kalau jobdesc tersebut berubah, lengkap dengan beban kerja dan ekspektasi yang ngadi-ngadi, nggak heran lagi kalau si karyawan lebih memilih untuk resign.

Terus, Bagaimana Cara Menghadapi Quiet Firing?

Kalau kamu merasa kamu “diminta” resign, kamu perlu komunikasikan hal tersebut ke HR perusahaanmu. Ceritakan (tapi jangan ngejilat, ya!) apa yang kamu rasakan saat itu kepada HR supaya mereka paham dan masalahmu bisa terpecahkan.

Kamu mungkin bisa ceritakan juga ke manajer timmu. Selain menceritakan masalah ini, kamu bisa sampaikan juga keinginanmu untuk berkembang dan tujuan karir yang tentunya berhubungan dengan perusahaan.

Tetapi, pada akhirnya si atasan harus mawas diri, apalagi kalau quiet firing ini dilakukan olehnya. Si atasan harus menyadari bahwa melakukan silent threatment terhadap si karyawan cuma gara-gara performanya nggak sesuai ekspektasi nggak bikin masalah selesai.

Oleh karena itu, pimpinan di perusahaan harus saling terbuka dengan karyawannya, dengan kata lain mereka harus bisa mengkomunikasikan masalah yang sebenernya susah dijelaskan kepada si karyawan supaya menghasilkan win-win solution.

Penutup

Meskipun quiet firing terjadi karena kesalahan perusahaan dalam manajemennya, bisa jadi emang si karyawan itu lah yang problematik di dalam perusahaan.Sehingga mau nggak mau, perusahaan harus membicarakan permasalahan itu kepada karyawan agar fenomena quiet firing ini bisa terhindarkan.

Buat website mudah dan gratis, coba Konekios sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *